var config = { //`true` jika pakai, `false` jika tidak adblock: { //Anti Adblock pakai: true, text: 'Matikan AdBlock pada browser untuk melihat konten blog ini.' }, halaman_bernomor: { //Halaman Bernomor di Homepage pakai: true, tampilan_per_halaman: 6, tampilan_nomor_navigasi: 2, firstText: 'First', lastText: 'Last' } };

Sejarah Industri di Indonesia

Posting Komentar

Hallo sobat jurtif, bagaimana kabar kalian semua ? semoga sehat selalu ya ... 😋

Oh iya apa sobat sedang penasaran gimana sih sejarah industri di indonesia ? kalau iya berarti sobat ada ditempat yang tepat, karena mimin sudah merangkum nya seringkas dan sejelas mungkin untuk sobat.
Sebelum menuju isi artikel, sobat perlu tahu bahwa isi artikel yang mimin publish iini sudah mimin parafrase (menganti dengan bahasa sendiri) untuk menghindari plagiarism.

Era Industrialisasi Abad 18

Indonesia memasuki era industri pada jaman penjajahan kollonial Belanda yang secara kebetulan bertepatan dengan perkembangan industri di Inggris dan Amerika pada abad ke-18. Industri di Indonesia dimulai dengan pembangunan pabrik-pabrik gula di Jawa dikarenakan gula adalah komoditas utama pada jaman penjajahan colonial Belanda. Tahun 1667 Belanda mendirikan VOC untuk memenuhi permintaan akan gula di Eropa, maka pada tahun 1750 VOC menyewa pabrik-pabrik gula tersebut. Namun karena teknologi produksi gula yang masih sangat tradisional yang bertenaga sapi dan hasil produksi yang sedikit, akhirnya teknologi tersebut di tinggalkan.

mesin gula tenaga kerbau

Karena tingginya permintaan di Eropa, mulailah jaman Hindia Belanda memasuki Era Industrialisasi yang sebenarnya, dimana penggunaan mesin-mesin sudah umum digunakan pabrik untuk produksi sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih banyak secara efisien. Pada tahun 1830, Jessen Trail Company mengirim surat kepada NHM (Bank) pada saat itu untuk mendanai pabrik gula di Jawa Barat. Adapun isi suratnya kurang lebih seperti ini.

“ Dalam memulai perusahaan – perusahaan kita saat ini, kami sangat menyadari mesin-mesin yang digunakan untuk pembuatan gula sangat tidak efisien dan tidak sempurna, oelh karena itu kami ingin mendatangkan mesin – mesin dari Eropa beserta tenaga ahlinya. Kami saat ini ( 1826 ) memiliki tiga pabrik penggilingan. Menggunakan mesin giling horisontal dari Eropa dengan tiga silinder, berpenggerak mesin uap 6 HP dan 8 HP, komplet dengan unit ketel uap (boillers), clarifiers dari tembaga dan besi, dan tiga unit mesin destilasi ( destilleries ) dan enam unit penyulingan berbahan tembaga dari Eropa…dan dilengkapi dengan sistem fermentasi untuk pembuatan arak dan rum.”

Berdasarkan surat pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa sejak tahun 1826 Indonesia memiliki tiga pabrik gula yang sudah menggunakan mesin sebagai teknologi produksi dan steam engine (ketel uap). Pada tahun 1837-1838 pabrik-pabrik gula yang menggunakan teknologi produksi leboh modern mulai dibangun di wilayah Kalimate, Wonopringgo, dan Sragie yang menyebabkabkan penyerapan tenaga kerja besar-besaran, dan cikal bakal adanya kontrak kerja yang berakhir dengan sejarah kerja paksa (rodi) yang brutal pada tahun 1830.

mesin gula abad ke-18

Berdasarkan surat pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa sejak tahun 1826 Indonesia memiliki tiga pabrik gula yang sudah menggunakan mesin sebagai teknologi produksi dan steam engine (ketel uap). Pada tahun 1837-1838 pabrik-pabrik gula yang menggunakan teknologi produksi leboh modern mulai dibangun di wilayah Kalimate, Wonopringgo, dan Sragie yang menyebabkabkan penyerapan tenaga kerja besar-besaran, dan cikal bakal adanya kontrak kerja yang berakhir dengan sejarah kerja paksa (rodi) yang brutal pada tahun 1830.

Pesatnya pertumbuhan industri gula ini diikuti oleh pertumbuhan industri kereta api pada akhir abad ke-18 dengan sejarah kereta api yang dimulai dari pencangkulan pertama rel kereta api di desa Kemijen pada tanggal 17 Junmi 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Van den Belee. Pembangunan ini prakarsai oleh Naamlooze Venootscap Nederlandsch Spoorweg Maatchappij dan dipimpin oleh dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju Tangung (26 km). Selain itu, pembangunan di Sumatra dimulai dari Aceh pada tahun 1874, Sumatera Utara pada tahun 1886, Sumatera Barat pada tahun 1891, dan Sumatera Selatan pada tahun 1914. Pada masa itu kereta masih menggunakan tenaga uap agar bisa berjalan. 

kereta api uap pertama

Era Industrialisasi Abad 19

Pada tahun 1920 an, industri-industri besar di Indonesia dominan dimiliki pihak asing sedangkan industri kecil mayoritas dimiliki pribumi . Perusahaan besar American Tobacco dan General Motor Car Assembly dan VOC mengalami depresi besar pada tahun 1930 an yang menyebabkan runtuhnya ekonomi di Hindia Belanda yang ditandai dengan tingkat eksor yang turun dari 1.448 juta Gulden (1929) menjadi 505 juta Gulden (tahun 1935) sehingga terjadi PHK besar. Resesi ini membuat pemerintahan kolonial belanda merubah sistem dan kebijakan ekonomi yang meruah fokus sektor pertanian ke sektor industri dengan memberikan kemudahan ijin dan dukungan fasilitas pembangunan pabrik.
Menurut sensus colonial pertama (1939), sektor industri pada masi itu mempekerjakan 173 ribu tenaga kerja di bidang pengolahan makanan, logam, dan tekstil. Pada masa itu investasi tidak terstruktur dengan baik namun dapat dikatakan bahwa total investasi yang ada di Indonesia pada tahun 1937 mencapai US$ 2.264 juta yang separuhnya US$ 1.411 juta dimiliki swasta. Belanda memegang 63% saham, Inggris 14%, China 11%, dan Amerika 7%.
Namun kondisi perekonomian berbalik terpuruk semasa pendudukan Jepang pada perang dunia II dikarenakan larangan impor bahan mentah dan diberlakukan tenaga kerja paksa (romusha) sehingga investasi yang dilakukan merugi. Ketika Indonesia merdeka, setelah 15 tahun Indonesia menjadi pengimpor barang kapital dan teknologi, dan memprioritaskan sektor industri juga investasi asing.
Pada tahun 1951 pemerintah mengeluarkan RUP (Rencana Urgendi Perekonomia) untuk menumbuhkan dan mendorong industri-industri kecil sembari membatasi industri-industri besar yang dimiliki pihak asing. Meskipun kebijakan ini membuat nilai investasi asing turun drastic, namun berhasil menumbuhkan industri yang dimiliki ribumi. Setelah situasi yang tepat, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berfokus untuk pengembangan industri yang dimiliki pemerintah atau kita kenal sekarang sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Pemerintah).
Setalah tahun 1957 sektor industri mengalami stagnasi dan perekonomian mengalami masa teduh sepanjang tahun 1960 an dikarenakan situasi politik dan inflasi. Situasi ini berlanjut sampai pemerintahan orde baru dan mulai membaik dikarenakan pemberlakuan kebijakan tingkat makro dan dilaksanakannya kebijakan diberbahai bidang.

Grup BUMN

Masalah Penghambat Industrialisasi di Indonesia

Pertumbuhan penduduk di Indonesia berkembang pesat dan menduduki posisi ketiga setelah India dan China namun tidak diikuti dengan pertumbuhan industry yang pesat. Salah satu indikator untuk mengukur tingkat industrialisasi adalah pada GDP (Gross Domestic Product) yang dimana Indonesia masih etrtinggal dibandingkan negara-negara utama di Asia. Selain itu dapat diukur dari besaran nilai tambah yang diproduksi oleh sektor industry , nilai tambah perkapita, dan produksi listrik perkapita serta persentase konsumsi listrik yang digunakan oleh sektor industry.
Indonesia tergolong rendah untuk produksi listrik perkapita dan hanya Sebagian kecil yang digunakan sektor industry. Pertumbuhan industry pada tahun 1950 sampai 1960 dapat dikatakan tidak baik dikarenakan situasi politik yang tidak menentu dengan kebijakan proteksionalisme dan etatisme yang ekstrim sehingga menyebabkan kemacetan produksi. Industri mulai mengamali pertumbuhan kembali pada masa PJP I yang diukur dari jumlah unit usaha, tenaga kerja, nilai tambah produk, kontribusi devisa pembentuk PDB yang terus tumbuh sampai terjadinya krisis ekonomi di Indonesia.
Permasahan terhambatnya pertumbuhan industry di Indonesia dikarenakan belum pulihnya kinerja sektor industry pada saat krisis ekonomi, selain itu seringkali ada desas-desus deindustrialisasi seperti berita aka nada penutupan 500 pabrik tekstil pada tahun 2006 dan sebagainya. Proses industrialiasasi yang terjadi di Indonesia mengandalkan industry tradisional berteknologi rendah seperti industry pakaian, kayu, kulit, sepatu, dan makanan.

Nah itulah sejarah industri di Indonesia yang mimin rangkum untuk sobat. Kalau sobat merasa kurang lengkap atau apapun, sobat bisa tulis di kolom komentar ya ... 😉

Mungkin hanya ini yang mimin bahas pada artikel kali ini, mohon maaf bila ada salah dalam penulisan dan semoga dapat bermanfaat untuk sobat semua. Terima kasih atas kunjungan sobat ke blog mimin, kalau sobat punya kritik dan saran silahkan sobat tulis disini.

Tif
Pepatah mengatakan membaca adalah jembatan ilmu. Mimin juga memiliki prinsip dimana tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain rasa penasaran yang terpuaskan. Semoga artikel yang mimin posting dapat bermanfaat untuk sobat.

Related Posts

Posting Komentar